Pajak: perlukah??

Denger kata ‘pajak’ qta pasti langsung kepikiran dgn orang bernama Gayus Tambunan. Ya, akhir2 ini qta dihebohkan dgn kabar soal markus yg diinisiasi oleh pernyataan pak Susno. Kasus ini kemudian semakin melebar seiring tertangkapnya Gayus. Menurut pak Teten Masduki  (Co. Transparency International Indonesia/TII), pengakuan Gayus bahwa ia hanya seorang markus pajak kelas teri menguatkan indikasi bahwa apa yg ia lakukan mmg hal yg lumrah dilakukan pegawai pajak (metrotvnews.com, 27/03/2010). Tentu saja hal ini mmbuat gerah org2 yg mengaku taat pajak. Ujung2nya muncul gerakan u/ memboikot pajak. Wajar sich, pajak yg seharusnya u/ pmbngunan malah banyak dikorupsi. Pdhl selama ini pemerintah gencar kampanye taat bayar pajak dgn alaasan tanpa pajak pembangunan tak dpt berjalan. Dgn pajak aja pembangunan ga berjalan (soalnya dikorupsi >< ). Tp bener ga sich u/ hidup sejahtera harus bayar pajak??

Sering qta dengar slogan begini “hari gini ga bayar pajak, apa kata Dunia??”. Sepertinya slogan itu kini harus sgera direvisi mnjdi “ hari gini ngelola negara masih ngandelin pajak, apa kata Dunia???”. Knpa perlu direvisi? Jawabannya coba teman2 simak dan analisis dengan jeli fakta dan data berikut ( sdkt perlu mikir ga pa2 kan biar pinter, mahasiswa gitu loh..).

Jika diperhatikan ternyata sebagian besar sumber APBN qta berasal dari pajak alias uang rakyat. u/ thn 2010 ini menurut MenKeu Sri Mulyani, target penerimaan Negara lewat pajak adlh sekitar Rp 742 triliun (Jpnn.com 24/03/2010). Sementara dari sektor non pajak, dalam RAPBN 2009, pemerintah mentargetkan sektor penerimaan Negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp 295,3 triliun yang diperoleh dari sektor migas (minyak bumi dan Gas), pertambangan umum, kehutanan, laba Badan Usaha Milik Negara (BUMN), pendapatan BLU dan PNBP lainnya.

Bagaimana dgn alokasi pengeluaran dari APBN? Apakah digunakan sepenuhnya u/ rakyat?

Dalam APBN perubahan 2010, anggaran pengeluaran (belanja) Negara membengkak Rp 57 T menjadi Rp 1.104 T. menurut MenKeu kenaikan anggaran tsb u/ belanja pemerintah pusat Rp 45 T dan transfer ke daerah naik sebesar Rp 11,8 T (Investor Daily Indonesia 20/03/2010). Sedangkan untuk belanja subsidi di tahun 2010 ini direncanakan hanya sebesar Rp 144,3 T (turun sebesar 15,5 T dibandingkan tahun 2009). Subsidi non energi dialokasikan hanya sebesar Rp 44,9 T (turun sebesar 12,5 T dibandingkan tahun 2009). Penurunan belanja subsidi non energi terbesar pada obat generik (100 %). Dalam RAPBN-P 2010, program ketahanan pangan hanya dianggarkan Rp 14,252 T. alokasi u/ perlindungan social hanya sebesar 3,4 T. sebaliknya, pembayaran hutang luar negeri sebesar Rp 16,924 T (News.id.-finroll.com 1/4/2010). Anggaran pelayanan puskesmas dan jaringannya turun dari Rp 2,64 T menjadi 1 T. anggaran u/ pendidikan turun dari 37,1405 T menjadi 31,704 T. subsidi pangan turun dari 12.987,0 M menjadi 11.844,3 M. dan banyak lagi lainnya yg turun kecuali harga2 pada naik (rencananya tarif dasar listrik(TDL) juga bakal naik). Beuuh, klo subsidi dan bantuan social dikurangi begini tentu beban org miskin makin banyak. Belum lagi harga2 bakalan naik dengan kenaikan TDL, mungkin jumlah org miskin bakalan meningkat. APBN yang notabene berasal dari uang rakyat tak digunakan sepenuhnya u/ membiayai rakyat, malah dihabiskan u/ membayar bunga dan pokok utang yg tentu saja sangat menguntunkan asing. Lebih2 lagi kalo dikorupsi, makin tidak bener aja nich..

Back to pertanyaan di awal, apa bener sich u/ hidup sejahtera harus ada pajak??

Dalam kitab An-Nizham al-Iqtishadi fii al-Islam, syaikh Taqiyuddin an-Nahbani (2004) menjelaskan bahwa dalam Islam, Negara (khilafah) bias memperoleh sumber2 penerimaan Negara yang bersifat tetap yaitu dari harta Fa’I, ghanimah, kharaj dan jizyah, harta milik umum, harta milik Negara, ‘usyr, khumus rikaz, barang tambang dan zakat. Dengan selurruh sumber tsb, Negara pada dasarnya mampu membiayai dirinya sendiri dalam rangka mensejahterakan rakyat. Dalam keadaan normal, pajak tidak diperlukan. Pajak hanya dipungut sewaktu-waktu saat kas Negara benar2 defisit dan hanya dipungut dari orng2 kaya saja.

Sebenarnya, jika Negara ini mengelola SDA dengan syariah maka pajak tidak diperlukan karena sumber penerimaan Negara dari SDA tsb sudah lebih dari cukup u/ mensejahterakan rakyat. Sayangnya ga seperti itu, SDA qta tidak dikelola secara mandiri oleh Negara melainkan dikelola oleh swasta/asing.  Tentu bagi mereka orientasi mereka bukanlah kesejahteraan rakyat, melainkan keuntungan semata. dari tambang emas terbesar di Papua yg dikuasai Freeport,  Negara pada tahun 2009 hanya mendapat pajak Rp 13 T plus royalty hanya US$ 128 juta dan dividen sebesar US$ 213 juta. Padahal, PT Freeport sendiri meraup laba bersih sebesar Rp 22,1 T (inilah.com 2/12/2009). Itu jg yg dilaporkan scra resmi, aslinya kan qta ga tau.. So, bisa tmn2 bayangkan, berapa seharusnya yg bs qta dpatkan dri hanya tambang emas Freeport saja. Belum lagi dari kekayaan tambang yang lain (batubara, perak, tembaga, nikel, besi dll), tentu sangat ironi jika pemerintah qta pada tahun 2010 ini hanya mentargetkan penerimaan sebesar 8,7 T. kemana larinya yg lain? Tentu pada asing. Itu hanya dari pertambangan lho, blm dari sektor hasil laut, hasil hutan dan sebagainya. Tentu Negara qta ini seharusnya menjadi Negara paling kaya di dunia.

Jika alasan pengelolaan SDA tsb diserahkan ke asing hanya karena SDM qta tdk berkompeten, sebenernya itu bukanlah alasan yg logis. Sebab faktanya SDM qta cerdas2. Hanya saja ga diperhatikan pemerintah karna pemerintah lebih suka produk Impor dibandingkan produk lokal.

So, sebenarnya penting u/ mengelola Negara ini dgn syariah, bukan dgn cara2 kapitalis. Karena kesejahteraan hanya akan diperoleh dengan syariah Islam sebagaimana firman-Nya :

“ Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi (QS al-A’raf :96). Beriman dan bertaqwa berarti melaksanakan seluruh syari’at dari-Nya, termasuk dalam urusan Negara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s