‘JALAN KEPAYAHAN’

Arief B. Iskandar

Panggilannya Pak Soma, usianya sekitar 60-an. Saya pertama kali mengenalnya sejak pindah rumah ke kampungnya, persis dekat rumahnya. Saat itu kami sholat magrib berjamaah. Dari guratan wajahnya, ia tampak seorang yang tegar.

Awalnya saya melihat Pak Soma biasa-biasa saja. Memang ada satu hal yang berbeda, yakni karena secara fisik pak soma bukanlah manusia yang sempurna, ia seorang yang cacat. Salah satu kakinya buntung dan hanya tinggal seperempat, sehingga kemana-mana ia bergantung pada kedua tongkatnya.

Sebetulnya ada banyak orang senasib dengan pak soma, namun hanya segelintir orang cacat yang taat beribadah, termasuk tak pernah ketinggalan sholat lima waktu berjmaah di masjid, seperti pak soma. Padahal jarak dari rumah ke masjid cukup jauh. Yang membuat ia semakin luar biasa, dengan melepas tongkatnya, ternyata ia sholat sambil tetap berdiri, tentu shaat dengan satu kaki. Ia tidak pernah sholat sambil duduk, padahal dalam sholat berjamaah di masjid itu, untuk berdiri dan rukuk satu rakaat saja ia membutuhkan 2-3 menit. Belum lagi ia dikenal rajin melakukan sholat nafilah dan sholat sunnah lainnya.

Saat saya tanya kenapa tidak dengan duduk saja, toh secara syar’I dibolehkan karena ada uzur. Ia menjawab dengan mantap, “Saya ingin, kepayahan saya dalam mendirikan sholat menjadi bukti kesungguhan saya dalam beribadah kepada Alloh, yang akan saya tunjukkan saat menghadap kepada-Nya di akhirat kelak.”

Subhanalloh! Betapa luar biasanya kata-katanya yang sebenarnya sederhana ini. Di tengah-tengah kebanyakan orang saat ini ingin mencari berbagai kemudahan, termasuk dalam ibadah, masih ada yang menempuh ‘jalan kepayahan’ seperti pak soma.

‘jalan kepayahan’ sebenarnya merupakan tradisi salafush-shalih. Bahkan jalan inilah yang sejak awal dicontohkan baginda rasululloh saw. Dan para sahabat beliau. Misalnya rasul dikenal selalu melewati malam-malamnya dengan sholat malam, hingga kaki belilau sering bengkak-bengkak karena seringnya berdiri lama dalam sholat malam. Tidak hanya dalam ibadah, beliau juga memillih ‘jalan kepayahan’ dalam sebagian besar episode dakwahnya. Mulai dari dicibir, caci-maki, diancam, dilempari kotoran oleh kaum kafir, tapi beliau tetap bergeming. Yang terucap dari lisan beliau yang mulia adalah, “Paman, andai mereka sanggup menaruh matahri di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan (dakwah) ini, aku tidak akan pernah melakukannya, hingga Alloh memenangkan agama-Nya atau aku mati karenanya.” (HR Ibn Hisyam)

‘jalan kepayahan pula yang ditempuh oleh para sahabat beliau. Bilal bin Rabbah, misalnya, dalam keadaan punggungnya telanjang tanpa baju, rela dijemur di atas pasir, di bawah terik matahari yang menyengat, lalau ditindih dengan batu. Yasir rela dijerat lehernya dan Sumayyah (istrinya) rela tubuhnya ditusuk dengan tombak hingga keduanya harus syahid.

Lantas, bagaimana dengan kita? Jujur, kita masih menimbang-nimbang saat mengeluarkan uang 100.000 untuk infak dakwah, tetapi selalu begitu gampang dan tak berpikir panjang saat membelanjakannya di mall dan super market. Jujur seperempat jam terasa sangat panjang untuk berdzikir, namun terasa pendek untuk berleha-leha dan tiduran. Jujur kita sering kesulitan mencari alasan untuk bolos kuliah, tetapi begitu mudah mencari alas an untuk tidak datang di acara majlis ilmu. Jujur kita sering tidak mau menerima qada’ Alloh dan enggan untuk belajar saat ujian, namun dengan mudah melegalkan segala cara untuk mendapatkan nilai terbaik di mata teman-teman dan orang tua kita dengan jalan menyontek.

Jujur meski kita sering mengklaim Rasululloh SAW adalah teladan kita satu-satunya, namun satu persatu pula kita tinggaklan keteladanannya. Astaghfirulloh al-‘Azhim!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s