Wanita-wanita Muslimah

Sebuah pengantar Syaikh Muhammad Hassan Abu Ahmad dalam buku 35 Sirah Shahabiyah 35 Sahabat wanita Rasulullah saw.

Musuh-musuh agama kita tahu dengan baik bahwa wanita muslimah merupakan salah satu unsure kekuatan masyarakat muslim. Oleh sebab itu, mereka berusaha sekuat tenaga, sepanjang siang dan malam, untuk melumpuhkan pergerakannya dan menggiringnya ke lembah fitnah.

Mereka sangat gelisah saat melihat fenomena wanita-wanita muslimah yang kembali memberi kontribusi besar kepada umat ini dengan melahirkan ulama2 aktivis dan mujahid2 yang tulus. Fenomena ini membuat mereka mencurahkan sekian besar perhatiannya untuk membuat wanita2 muslimah itu menjadi mandul dan hanya melahirkan generasi yang tidak memiliki jati diri dan jauh dari ajaran agama.

Untuk mencapai tujuan yang hina ini, musuh2 islam menempuh segala cara dan membuat berbagai rencana untuk merusak wanita muslimah. Mereka mempropagandakan isu qadhiyyatul mar’ah (Problematika wanita) yang subtansinya menyatakan bahwa persoalan wanita muslimah harus dibicarakan dan dibahas kembali untuk diperjuangkan dan mendapat pembelaan. Dengan alasan, selama ini wanita muslimah terzalimi, belahan yang tidak diberdayakan, paru-paru yang tidak berfungsi, dan tidak mendapatkan hak-haknya, karena laki-laki telah mendominasi dan seluruh sendi kehidupannya.

Di saat yang sama, mereka juga melancarkan serangan terhadap pemakaian hijab dengan segala cara. Mereka menyeru kepada kaum hawa agar melepaskan diri dari “belenggu” dan bersikap bebas. Mereka mengajak wanita muslimah agar bergaul bebas dengan laki-laki tanpa batas yang jelas untuk menghempaskan mereka ke dalam lembah nista dan fitnah dengan alasan bahwa yang paling penting adalah pendidikan. Sedangkan merekan sendiri menganggap dirinya bebas dari sumber penyakit dan terhindar dari tempat-tempat yang ternoda.

Dia melemparkannya kedalam sungai dengan tubuh yang terbelenggu lalu berkata

Hati-hatilah……hati-hatilah…..jangan sampai tubuhmu basah terkena air

Malangnya, propaganda busuk ini berhasil merasuki banyak kalangan musslim sendiri, baik laki-laki maupun perempuan. Banyak orang yang terimbas dan ikut-ikutan menyebarkan rumor-rumor bathil tersebut. Mereka seakan-akan lupa bahwa sepanjang sejarah, wanita tidak pernah mendapat kedudukan yang terhormat, kecuali dalam ajaran Islam.

Dalam peradaban Yunani, Romawi, India, Yahudi, dan Arab Jahiliah, wanita dipandang hanya sebagai bakteri yang tidak layak untuk sekedar hidup.

Bahkan dalam peradaban barat modern sekalipun, wanita hanya menjadi komoditas permainan dan kesenangan ketika masih muda, menarik dan cantik. Tetapi, saat sudah lanjut usia, nasibnya berakhir di tengah lingkungan panti jompo.

Islam hadir untuk mengangkat wanita dari kerak lembah yang mengenaskan dan menempatkannya pada kedudukan yang sangat terhormat. Islam memandangnya sebagai belahan jiwa laki-laki dan menjadikan berbakti kepada ibu lebih utama daripada berbakti kepada ayah. Islam memuliakan wanita ketika menjadi istri, bahkan ketika masih kanak-kanak. Penghormatan islam terhadap wanita  terlihat jelas ketika Al-Qur’anul Karim memuat satu surah khusus yang membahas tentang wanita dan menamakannya surah An-Nisaa’ (kaum wanita).

Sudah saatnya wanita muslimah mengetahui fakta-fakta ini dan menumbuhkan kembali kerinduan dalam pandangan dan hatinya untuk mengikuti sosok-sosok ideal dan teladan-teladan yang suci serta shalihah, seperti Ummahaatul Mukminin (Istri-istri Rasulullah saw), kaum wanita dari dari kalangan sahabat Nabi saw., dan wanita-wanita generasi tabi’in yang mulia.

Kepada setiap persemaian kemuliaan dan kehormatan. Kepada pereka generasi dan pendidik  manusia-manusia agung. Kepada segenap kaum hawa yang pada kurun-kurun masa lalu, dengan menyandang mahkota rasa malu dan kesucian, telah sanggup mengayunkan buaian sang bayi dengan tangan kanannya dan mengguncangkan singgasana kekafiran dengan tangan kirinya. Kepada sang intan yang terpelihara dan mutiara yang terjaga, mudah-mudahan dia mau mengikuti lagi orang-orang yang lebih dulu memperjuangkan agama ini (As-Saabiqiin was Saabiqaat), orang-orang yang jujur (Ash-Shaadiqiin wash Shaadiqaat), dan orang-orang yang beriman (Al-Mukminiin wal Mukminaat), untuk mengumandangkan kalimat-kalimat abadi dan mulia

kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.” [Al-Baqarah:285).

Wallahu a’lam Bi ash-shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s