Tanya hati kecilku….

Hari ini, tak sengaja liat film ‘laskar pelangi’ di salah satu stasiun TV swasta. meskipun sudah berulang kali ditonton, ceritanya tetap menarik u/ disimak. kisahnya ttp menginspirasi, ttp memberi energi u/ jiwa yg semangatnya mulai rapuh oleh sedikit kesulitan, sedikit kerikil yang mengganggu perjalanan menggapai impian2…

Lintang,,, tokoh paling inspiratif dlm film tersebut,,,berbakat cerdas (tanya: kecerdasan itu bakat bukan ya?? hee^^)  tapi semangatnya menuntut ilmu luar biasa,, walau akhirnya harus mengalah dengan keadaan. (mengalah?? mungkin sbnrnya ga ya,,hanya blm menemukan kata yg lbh tepat)

Malu sebenarnya bila semangatku dibandingkan dengannya…banyak kemudahan bagiku memperoleh dan menjalani pendidikan. tapi justru kemudahan itu yg melenakan, membuat begitu mudah patah semangat saat menghadapi kesulitan yg hanya sesaat, kecil dan sepele…akan lebih malu lagi jika aku, seseorang yg sdh berkesempatan menikmati pendidikan tinggi, berpredikat mahasiswa dan dianugrahi gelar sbg ‘intelektual’ tapi hanya bisa mengurusi persoalan2 pribadi yg itupun blm terselesaikan sendiri dgn ilmu yg dimiliki. masih perlu penyangga, tak mampu memimpin dan tak mandiri..sungguh memalukan T_T (smga aku tak begitu).

back to ‘Laskar Pelangi’…film tsbt hanya salah satu dr banyak film serupa yg mengangkat tema pendidikan…pendidikan yg mmng realitasnya di negri ini persis seperti yg digambarkan dlm film2 tersebut.  sedikit mengutip kata2 iklan ‘banyak anak bersemangat u/ sekolah…bla..bla..bla..’. ya,, mmng banyak anak yg bersemangat u/ bisa sekolah, tapi nasibnya harus seperti Lintang. mimpinya terhenti karena masalah ekonomi… padahal semestinya, jika UUD 45 masih dikatakan sakral dinegeri ini, seharusnya setiap warga berhak mendapatkan pendidikan, sebagaimana tercatat dlm pasal 31 UUD 45 ayat (1):
“Setiap warga berhak mendapat pendidikan”. (redaksionalnya harus ditambahin jg tu jd “setiap warga berhak mendapatkan pendidikan yang layak dan bebas biaya, kebutuhan kehidupan yg lain jg harus mendapatkan jaminan “). mmng sdh ada bbrp sekolah gratis, tapi hanya sampai tingkat SMP, itupun ga gratis2 amat. biaya ini itu masih harus disediakan. terlebih lagi karena sekolah ‘bebas biaya’, maka fasilitas dan pengajarnya pun seadanya saja (u/ tdk mngatakan tdk layak). terlebih lagi, bagaimana nak sekolah, sdngkan dirinya hrs memikirkan nasib kelanjutan hidupnya karena tak ada yg menjamin sandang, pangan dan papan u/nya. bagaimanalh hendak sekolah,,hari ini mendapat sesuap nasi pun belum pasti,, yah itulah realitas pendidikan di negeri ini,,,

sedikit tanya hatiku,, apakah yg dikehendaki para pemimpin negeri ini kepada rakyatnya? knpa harus membiarkan kita hidup dalam lingkaran kebodohan? tak sadarkah masa depan negeri yg dipimpinnya ini ada ditangan kami para penerusnya? bgmana mungkin sebuah negeri yg ingin terdepan dipimpin o/ orang2 yg tidak menguasai keilmuan, juga ilmu kepemimpinan? menurutku, kebodohan adalah sebuah bencana, dan nasehat2 para petinggi2 itu ketika kita ditimpa bencana maka dianjurkan u/ bersabar. dan aku harus bertanya lagi, apakah kita harus bersabar dalam kebodohan?? mungkin iya kalau mereka berambisi menjadi penguasa abadi negeri yg kaya ini..

lantas bagaimana pula dgn org beruntung yg sdh mendpatkan kemudahan menikmati bangku pendidikan? apakah mereka bisa diharapkan menjadi pemimpin??

pertanyaan itu  yg masih terus menghantuiku karena aku adalah salah satu org beruntung itu. dari beragam pengalaman yg aku alami, berbagai interaksi yg aku jalani, bermacam realitas yg aku amati, aku mendapatkan gambaran bahwa (meski tidak semua, tapi kebanyakan) orang2 beruntung tsbt sangat jauh dari karakter seorang pemimpin. bagaimana bisa diharapkan menjadi pemimpin, jika bahkan apa yg terjadi disekelilingnya pun ia tak peduli. harus diakui kalo ternyata pendidikan kita telah gagal. suka atau tidak, itulah realitasnya. aspek pembentukan kepribadian, kepemimpinan dan kemandirian diabaikan dalam sistem pendidikan kita. yang ada hanyalah nilai dan nilai saja. kepintaran kita hanya diukur oleh angka-angka. prestasi kita hanya diukur oleh banyaknya deretan piala.apakah harus seperti itu??bahkan, pasal 31 UUD 45 ayat (3) yang berbunyi “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan, serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang”, hanya menjadi pasal-pasal yg kosong, sangat abstrak.sulit diwujudkan dgn sistem pendidikan sekarang dimana pendidikan Agama (aspek aqidah) hanya menjadi pelengkap kurikulum saja (cuma 2 sks kalo di bangku kuliah,,ckck,,).

hmmmm….mungkin orang akan mengatakan aku ini hanya bisa menjadi tukang kritik, tak punya prestasi apa2 selain prestasi dalam hal menuntut dan mengkritik. tapi semua ini hanyalah tanya hati kecilku…tak salah kan kalo aku bertanya??

kembali ke ‘Laskar Pelangi’, ada kata2 menarik dr pak harfan disana, bahwa penanaman aqidahlah yg menjadi dasar pendidikan, bukan hanya menjadi pelengkap kurikulum saja. pendidikan pun tak sekedar diukur dgn nilai2, tapi dgn hati (begitu kalo tdk salah,,heee tak cukup hafal redaksinya wlopun udh ditonton berkali-kali..maklum..^^).

itulah sedikit tanya hatiku…cuma ingin sharing…

salam perjuangan… ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s