‘ReVoLuSi’

Waktu berlalu begitu cepat rasa-rasanya. Dinamika kehidupan makin beragam. Setiap hari topik berita selalu berganti dari satu kejadian menuju kejadian yang lain. Masih ingat kan berita tentang tumbangnya Presiden Hosni Mubarak oleh rakyat Mesir Jumat (11/2/2011) lalu? Setelah rangkaian aksi massa besar-besaran sejak 25 Januari 2011 yang menewaskan lebih dari 125 orang, akhirnya Mubarak menyerahkan kekuasaan kepada militer, seperti akhir revolusi Tunisia. Dengan demikian pengumuman itu mengakhiri rezim otokratik yang telah berjalan tiga dekade.

Revolusi Mesir ini memang diilhami oleh revolusi melati di Tunisia yang berhasil mengusir presiden Tunisia, Zine El Abidine Ben Ali, setelah berkuasa selama 23 tahun. Nampaknya, inspirasi ini juga menular ke Aljazair, Yaman, Yordania dan negeri-negeri Timur Tengah lainnya. Bahkan pernah dikhawatirkan akan menular juga ke Indonesia.

Pertanyaannya adalah, apakah setelah Mubarak tumbang dan bahkan  Zine El Abidine Ben Ali kabur dari negaranya, persoalan di Tunisia dan Mesir berakhir? Jawabnya: “ah bodo amat, bukan urusan gue, weeeksss”, yah whatever lah…

Kalau kita amati dari dua kejadian yang berdekatan tersebut, rakyat hanya menuntut turunnya presiden mereka alias pergantian rezim. Setelah tuntutan mereka berhasil, ga tau lagi dech mau ngapain. Sama halnya dgn yang terjadi di Indonesia tahun 1998 dulu. Makanya pemerintah Obama yang membantu menstabilisasi Mesir setelah Hosni Mubarak lengser, melirik periswa penggulingan Soeharto pada 1998 sebagai model transisi demokratis di negeri dengan penduduk mayoritas Islam.

Faktanya, kita yang pernah mengalami hal yang sama dengan Mesir dan Tunisia, kondisinya tidak semakin membaik, tapi justru semakin memburuk. Sama halnya dengan negara-negara yang lain yang pernah juga mengalami hal ini seperti Pakistan, Bangladesh, Irak dan lainnya. Lantas apakah akhirnya gelombang perubahan yang digulirkan itu tidak penting, dan bahkan sia-sia? Ya ngga juga sich. Paling ngga, masyarakat udah sadar kalau ada yang salah dengan kehidupan mereka. Sadar kalau tidak ada keadilan di tengah-tengah mereka. Hanya saja masyarakat belum tau apa dan bagaimana perubahan yang diinginkan.

Untuk mewujudkan perubahan sudah barang tentu yang harus dilakukan adalah menyiapkan sistem alternatif untuk mengganti sistem yang sdh ada. Ibarat mobil yang udah rusak, bobrok dan mogok, tentu yang diganti bukanlah sopir mobil tersebut, melainkan mobilnya yang wajib di ‘LEM BIRU’ (lempar ganti yang baru).  Begitu juga halnya dengan negara. Negara yang telah gagal dengan sistemnya yang rusak, tentu harus diganti dengan sistem alternatif yang jauh lebih baik. Sudah terbukti pergantian rezim saja tidak dapat mebawa perubahan. Pasalnya, rezim pengganti yang baru ternyata sama saja, masih pro Barat baik Amerika, Inggris atau Prancis. Lihat saja Mesir, pengganti Mubarak, Omar Sulaeman, dikenal memiliki hubungan khusus dengan CIA dan terlibat melakukan penyiksaan terhadap tahanan perang melawan terorisme ala Amerika. Omar juga dekat dengan pemimpin Israel. Selama menjabat sebagai kepala Badan intelijen Mesir, Omar bertanggung jawab terhadap pelanggaran HAM yang terjadi di Mesir berupa penangkapan dan penyiksaan terhadap lawan-lawan politik Mubarak. Omar Suleiman disiapkan sebagai kandidat teratas untuk mengambil alih negara jika sesuatu terjadi kepada Presiden Hosni Mubarak. Bagaimana dengan Tunisia? Ga jauh beda. Setelah Zine El Abidine Ben Ali lengser, kekuasaan negara beralih ke tangan Mohammed Gannouchi, Kallal, Fuad Mebazza dan Pemerintahan persatuan. Mayoritas mereka adalah orang-orang Ben Ali dan tetap dekat dan loyal ke Prancis.

Pelajaran dari semua peristiwa ini adalah bahwa perubahan dan pergantian rezim saja tidak cukup. Sebab pangkal masalahnya memang bukan pada sosok Mubarak, Ben Ali, Soeharto dkk. Tapi pangkal masalahnya adalah pada sistemnya yang sekuler. Penting agar bagaimana jangan sampai kita mengulang kesalahan yang sama.

Agar kita tak terjebak pada lubang yang sama, maka dari itu, penting untuk menyiapkan sistem pengganti, yaitu Islam. Selain itu, kita juga wajib melakukan penyadaran pada masyarakat bahwa wajibnya penggantian sistem dengan Islam bukanlah semata-mata karena kesulitan hidup yang kita alami saat ini, tapi semata karena perintah Allah SWT. Oleh karena itu, kita harus terus mengkomunikasikan secara masif kebobrokan demokrasi, kapitalisme maupun sosialisme disamping yang utama adalah menyampaikan desain bangunan sistem Islam dan kewajibannya untuk menerapkan. Saat ini yang harus kita lakukan adalah ambil bagian bergabung dalam perjuangan ini. Jangan sampai kita tidak peduli dengan urusan ini. Sebab, sebagai generasi penerus, masa depan ada ditangan kita!!

Wallah a’lam bi ash-shawab

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s