Sakazakii

Belakangan ini, nama Institut Pertanian Bogor (IPB) menjadi selebriti di media massa, baik cetak maupun elektronik. Yoi, as we know together,  karena apalagi kalau bukan soal Mr.sakazakii. Itu loh, bakteri yang kabarnya menurut hasil penelitian IPB tahun 2003-2006 ada pada beberapa susu formula. Kalian pasti pada tau kan? Sebagai civitas akademika IPB kudu tau donk soal beginian. Masak persoalan yang menyangkut lembaga tempat kita bernaung malah kitanya ga tau atau bahkan ga peduli. Payah ah L

Kasus ini bermula ketika para peneliti IPB menemukan adanya susu formula yang terkontaminasi bakteri Enterobacter sakazakii sebesar 22,73 persen dari 22 sampel susu formula yang beredar tahun 2003-2006. Hasil penelitian yang dipublikasikan  tahun 2008 tersebut mendorong seorang pengacara konsumen publik, David Tobing, menggugat IPB, BPOM dan Menkes ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat untuk mengumumkan temuan IPB dan akhirnya memenangkan perkara tersebut. MA melalui putusan kasasinya pada April 2010 memperkuat putusan PN Jakarta Pusat.

Hingga saat ini, merk2 susu formula yang tercemar sakazakii-kun ini blm diumumkan, baik oleh IPB maupun KeMenKes dan BPOM.  Soal ungkap-mengungkap nich, untuk kasus ini tentu tidak sesederhana yang dibayangkan oleh masyarakat. Persoalan ini bukan semata-mata fokus pada susu formula yang tercemar bakteri. Untuk kasus jatuhnya korban yang melibatkan hasil penelitian ini sendiri belum ditemukan (hmmm memang sich untuk kemaslahatan umat ga perlu harus ada jatuh korban dulu baru bertindak J). Sekalipun ada, perlu pendalaman fakta, apakah korban yang sakit akibat terkontaminasi Enterobacter sakazakii ini memang murni karena minum susu formula atau karena faktor lain (misalnya dari makanan lain, makanya perlu penelitian lebih lanjut mengenai hal ini dan proses yang panjang). Penelitian ini sendiri baru dilakukan pada tikus, belum diuji coba pada manusia. Hasilnya, tikus itu mengidap enteritis (peradangan saluran pencernaan), sepsis (infeksi peredaran darah) dan meningitis (infeksi pada lapisan urat saraf tulang belakang dan otak). Seperti diberitakan, bakteri Enterobacter sakazakii ini berbahaya bagi organ tubuh seperti pembuluh darah, selaput otak, saraf tulang belakang, limpa, dan usus bayi terutama dalam jangka panjang, yakni 6 sampai 8 tahun pasca konsumsi.

Untuk menjawab keresahan masayrakat, Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) menginstruksikan Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk melakukan penelitian ulang terhadap susu formula untuk mengetahui apakah ada bakteri sakazakiinya atau tidak. Kemendiknas memberikan waktu selama enam bulan untuk menyelesaikan penelitian tersebut (http://www.republika.co.id, 24-02-11).

Ketua Komisi IX DPR RI Ribka Tjiptaning meminta semua pihak mewaspadai mengenai kemungkinan adanya agenda pihak asing di balik polemik hasil penelitian IPB soal bakteri Enterobacter Sakazakii dalam susu formula yang beredar di Indonesia. Tujuannya adalah menggusur susu formula produksi dalam negeri (http://www.republika.co.id, 23-02-11). Yah, dugaan semacam itu sudah pasti ada. Sebelum2nya kan jg ada yg pro dan kontra soal diumumkannya merk2 susu yg terkontaminasi Mr. Sakazakii ini.

Tulisan ini memang tidak ingin bicara siapa yang benar dan siapa yang salah, juga tidak sedang membela satu pihak. Tulisan ini hanya ingin berbagi pandangan. Berlarut-larutnya kasus ini (juga kebanyakan kasus lain dinegeri ini) dan banyaknya spekulasi2 yang muncul, tak lain tak bukan sudah tentu karena saking banyaknya kepentingan. Inilah efek kapitalisme yang selalu mengedepankan asas manfaat dan kepentingan para pemilik modal. Siapa yang punya banyak modal, dialah yang akan menguasai opini publik berdasarkan kepentingannya. But, yang paling penting adalah bahwa kasus Mr.sakazakii ini seharusnya ga perlu berlarut2, bahkan ga perlu terjadi jika pemerintah ga mengabaikan urusan rakyat. Lha jelas tho, sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk menjamin ketersediaan dan keamanan pangan serta gizi masyarakat. Dari sisi jaminan kemanan pangan, kasus Mr. Sakazakii ini bukan satu2nya dan bukan kali pertama kasus serupa terjadi. Contohnya,  Kasus makanan mengandung formalin, borax dan penggunaan zat tambahan berbahaya lain pada bahan-bahan konsumsi baik yang diproduksi industri besar maupun skala rumahan. Begitupun penggunaan bahan-bahan tambahan pada produk pangan dan obat/vaksin yang terindikasi haram dikonsumsi dan dipakai umat Islam. Semua itu menegaskan bahwa pemerintah abai terhadap urusan rakyat.

Itu baru dari sisi obat dan makanan, dari sisi lain seperti soal pendidikan, ekonomi dsb lebih banyak yang salah urus. Bisa dikatakan telah terjadi ketidakadilan dlm seluruh aspek khdpn msyrakat kita. Para pemimpin dan pejabat negri ini nyatanya lebih mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompoknya ketimbang urusan rakyat. Yah, itulah realitanya fren.

Back to Islam

So, frenz2, biar kita tidak terjebak pada kepentingan2 sesaat yang bersifat duniawi, maka sudah seharusnya kita kembali kepada Islam. Karena hanya Islam yang mengedepankan kebenaran. Sistem ini tegak diatas landasan yang sahih, yakni keyakinan akan adanya Pencipta yang bukan hanya berhak untuk disembah, tapi juga satu-satunya yang berhak mengatur manusia dan kehidupan. Dengan keyakinan ini, seorang Muslim menyadari bahwa visi hidupnya adalah Ilallah, sementara misinya adalah menjadi ‘Abdullah. Dengan kesadaran ini, setiap muslim akan siap terikat dengan aturan-aturan Allah, dan bertanggungjawab dalam setiap status dan peran penghambaan yang diembannya.

Nilai kepemimpinan/kekuasaan di dalam Islam tidak dipandang rendah hanya sebagai alat mencari dunia yang fana lagi hina atau semata demi kebanggaan nafsu ammarah sesaat sebagaimana ajaran/perspektif sekulerme. Kepemimpinan/kekuasaan justru menjadi jalan ketaatan untuk meraih kemuliaan umat dan agama yang akan berujung pada diperolehnya keridhaan Allah di dunia dan akhirat. Inilah rahasia kesuksesan kepemimpinan dalam Islam yang telah terbukti berhasil menghantarkan umat pada kejayaan mereka.

Kisah Umar dan pejabatnya mungkin bisa dijadikan teladan. Diceritakan, suatu hari Umar ra meminta kepada pegawainya untuk mendata rakyatnya yang terkatagori fakir miskin. Setelah selesai, disodorkanlah data itu. Ternyata dari daftar tersebut ada salah seorang pejabat Umar yang masuk kategori fakir miskin. Kemudian Umar memerintahkan petugasnya untuk segera menyantuni pejabat itu. Namun ketika dia diberi santunan, dia malah mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Kemudian istrinya bertanya “siapa yang meninggal suamiku?”. Dia menjawab, “Umar telah memberiku musibah”. Lalu istrinya bertanya lagi, “Kalau begitu bagaimana menghilangkannya?”. Suaminya menjawab, “bagikanlah harta ini kepada fakir miskin yang lain”.
Pejabat Umar ini tentunya bercermin pula pada Umar ra sebagai kholifahnya. Umar pernah memanggul gandum sendiri untuk diberikan kepada salah seorang rakyatnya yang miskin dan membantu mencarikan bidan bagi seorang perempuan yang akan melahirkan di penghujung malam. Umar seringkali berkeliling kampung memperhatikan kondisi rakyat dan menegur dengan keras ketika melihat kecurangan. Pernah juga mengambil harta salah seorang pejabatnya karena khawatir mengandung harta yang tidak halal, bahkan merampas bisnis ternak anaknya ketika diketahui rumput pakannya tercampur rumput dari padang gembalaan milik umum [http://sitinafidah.blogspot.com/2011/02/kasus-sakazakii-cuma-satu-bukti.html].

so, tunggu apa lagi.saatnya kita kembali pada Islam. Kembalikan kedaulatan hanya pada Islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s